Showing posts with label backpacking. Show all posts
Showing posts with label backpacking. Show all posts

Saturday, March 31, 2018

Kisah Di Balik Pendakian Gunung

Kalo pengen tau rasanya diputusin dengan alasan tidak logis, tanya aja sama gue. Siapatau gue ngerti jawabannya.

***


Waktu itu, gue lagi jarang banget naik gunung, tapi suddenly kepikiran buat nyoba Gunung Slamet. Ya mengingat gue belum pernah dan juga *kayanya* habis diputusin atau lebih tepatnya diputuskan secara pihak sampai akhirnya itu mantan meniqa dan gue tidak diundang.

Anjir. Sedih juga nulisnya.

Ya, biasanya gue naik gunung karena pelampiasan perasaan, sih. Entah sedang jatuh atau 'jatuh' cinta. Gue rasa kebanyakan sih yang di'jatuh'in.

Pernah, tuh, gue naik gunung nulis di buku tulis (note) kecil, ngajakin cewe yang gue taksir buat ta'aruf, namun apadaya, si cewe ternyata udah punya pacar selama 7 tahun. Macem lo mau KPR itu tinggal 8 tahun lagi lunas. Ya ujungnya mereka sih meniqa sekarang, dan sudah bahagia.

Anjir. Sedih lagi.
Ini gue nulis, gak ada bahagianya, pisan.

Lalu, apalagi, ya.

Oh iya, waktu itu naik ke Guntur, itu juga lagi pacaran sama orang yang gue deketin hampir 6-8 bulanlah, pastinya lupa. Yaaaaaa, kalian bisa nebaklaaah. Gue diputusin setelah gue pacaran cuma 4 bulan.


Akhirnya dia meniqa kemarinan. Gue sih diundang, tapi gak dateng. Bukan karena gue sedih, tapi karena waktu nikahannya tidak cocok dengan acara kesendirian gue.

Puck. Anjir. 

Hmmm, pas naik Gunung Papandayan juga. Itu gue abis diputusin, padahal gue udah jadian selama 1........
.......
......
bulan. 

Iya secepat itu. 
 
Kalian gak salah baca. 

Ini gue pacaran kaya macem main petak umpet. Bentar banget. Alesannya karena gak direstuin nyokapnya. Padahal gue tau, engga berapa lama dia pacaran lagi sama mantannya.

Kesel? Iya. Sedih? Iya.
Tapi gue biasa aja *padahal ini nangis sesenggukan.

Semua kisah di atas merupakan alasan di balik pendakian gunung yang telah gue lalui. Ya padahal masih banyak, sih. Entah gue diputusin, atau gue emang yang terlalu baperan anaknya. Tapi, plis, hati gue bukan mainan. Kayaknya cuma slime yang dibuat dari lem fox dan gom. Kenyal kenyal menggiurkan.

Seluruh pendakian tersebut udah bikin gue move on, kok. Karena pendakian, menurut gue, adalah cara terbaik ngobatin sakit hati. Tidur di bawah langit dan bintang beralaskan matras di dalam tenda itu juara banget. Tempatnya adem, yaiyalah adem namanya juga gunung. -.-

Bukan, bukan itu.

Kalo kalian pernah atau enggaknya naik gunung, cobalah lo sesekali sampai di atas gunung itu sore ketika lembayung senja timbul. Lalu, lo termenung melihat kota dari kejauhan, bayangin kalo lo berasal dari bawah kota yang telihat kecil itu, dan setelahnya bayangin lo udah napakin kaki lo sejauh ini.

It is worth to wait.



Apalagi lo bayanginnya di samping tenda sambil nahan berak. Duh. Pasti lo engga bakal kepikiran lagi, yang ada di otak lo hanya ada kata "Anjir, gue berak dimana ya ini."


Haha.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Benbageura (@benbayoga) pada


Nah, kaya gini nih pemandangannya. Bagus, kan? Kan? Kan?


PS:
Buat mantan-mantanqu, bahagialah. Setidaknya gue pernah ada di posisi yang membahagiakan kalian, dahulu. Cailah. Wekwekwek.

Saturday, October 15, 2016

Main-main ke Pendakian Gunung Sindoro

"Ben, mau ikut ke Sindoro, ngga?" Ajakan abang gue.


***
Ketika mendapatkan ajakan seperti itu, langsung saja gue iyakan. Alasannya simpel, karena udah jarang main di kebon (red: gunung) dan emang lagi ngga ada rencana. Ya meskipun, ajakannya terjadi karena adanya peserta yang gagal ikut, sih.

Selain itu, kayanya setelah wisuda kuliah, gue belum mendaki gunung lagi. Kapan lagi ye kan bisa foto pake toga di atas gunung.

Buat yang bertanya-tanya, Sindoro itu ada dimana, mending googling dulu deh, sebelum melanjutkan ke kalimat selanjutnya. Huh.


Eh engga, deng. Bercanda.

Gue googling dulu, ye. Bentar.

Gunung Sindara, biasa disebut Sindoro ataupun Sundoro (ketinggian 3150 mdpl) merupakan sebuah gunung volcano aktif yang terletak di Jawa Tengah, Indonesia, dengan Temanggung sebagai kota terdekat. Gunung Sindara terletak berdampingan dengan Gunung Sumbing.

Nah, hasilnya dari Wikipedia.com, tuh. Gimana? Memuaskan?

HA HA HA HA

By the way, sekalipun gue cuma diajaki naik gunung, tapi kita mesti tetep melihat kondisi teraktual gunung itu gimana, terutama bagi gue pribadi itu ialah cuaca. Hujan, kah? Panas, kah?
Cara gue melihat kondisi itu biasanya lewat mountainforecast.com (kalo masih ada),  kadang-kadang akurat, kadang tidak. Karena semuanya ada di tangan Tuhan Yang Maha Esa. Bukan di tangan Aa Gatot atau Dimas Kanjeng.

Ke Gunung Sindoro ini kalo dari Jakarta bisa dicapai melalui Purwokerto lalu nanti biasanya ada yang menawarkan untuk mencarter minibus sampai ke Basecamp Sindoro, ataupun jika kalian hanya sendiri, bisa menaiki bis yang menuju ke Semarang dari Terminal Purwokerto, lalu berhenti di Kledung.

Ingat. Kledung. Bukan Blendung ataupun Tekdung.

Sudahlah.

Sesampai di sana, cuaca mendung dan gelap, persis seperti dugaan gue mountainforecast. Meskipun begitu, gue dan rombongan langsung mencari tempat pendaftaran dan istirahat (repacking peralatan). Iyap, sebaiknya, sebelum melakukan pendakian, kita mesti memetakan peralatan dalam rombongan, dilihat dari kekuatan tim dan lainnya. Jangan sampai memaksakan seseorang, malah nantinya membuat rombongan ngaret dan molornya jadwal pendakian.

Aslik. Sok ngerti banget ye gue. Hahaha.

Setelah beberes, kondisi malah hujan besar, dan lama, sehingga pendakian agak molor ke jam 4 sore. Deym. Bakal pendakian malam lagi ini, mah. Gue pikir.

Di saat pendakian, mau ngga mau, tetep dalam kondisi gerimis. Kita harus jalan, karena rencananya bakal melakukan pendakian ke tetangga sebelah esoknya. Ya walaupun ini cuma jadi angan-angan semata.

Sebenernya, gue pengen nulisin berapa jam untuk ngedakinya. But, karena ini pendakian lama yang baru ditulis. Jadinya gue lupa, deh. Maafkeun. Tapi dari basecamp ke Pos 3 itu, gue memakan waktu sekitar 3 jam, deh. Tanpa jeda istirahat yang banyak, ya. Sedangkan, Pos 3 ke Puncak sekitar 3 jam juga sepertinya.

Di Pos 3 ini, karena kita sudah kemaleman, kita ngga kebagian tempat buat nenda, dapet sih tapi kondisinya miring. Pas tidur, tiba-tiba kaki gue melorot ke bawah. Lalu gue merasa kedinginan. Iya, tenda yang kemarin ngga proper dibuat tidur karena kehabisan lapak. Jadilah, bangun tenda seadanya, yang penting berdiri dan menutup kita dari angin malam.


Esok paginya, kebangun karena kedinginan juga, membuat gue menjadi males meneruskan perjalanan sampai Puncak. Sekali lagi, ini bukan Puncak Mesjid At-tawun, yaa.

Ya, sebenernya karena kepalang udah bawa toga aja, sih, jadinya tetep lanjut.

Tapi sebelum melakukan pendakian ke Puncak, gue kasih beberapa foto asyik. Diambilnya cuma pake iphone 4S, kok







Akhirnya, setelah menanyakan ke beberapa rekan yang lain, dan ngga ada yang mau nerusin ke Puncak. Kami pun hanya melakukan berempat. Dimana logistik, hanya gue yang bawa. Mereka dengan asyiknya hanya bermodal tubuh sendiri. Siakek, emang. Asemik.

Dengan akal bulus yang aduhai, kalo mereka bilang haus, gue bilang nanti aja, “Puncak sudah deket.”. Kejam sih memang, lho tapi air minumnya kan gue ga minum sendirian juga. Jadinya ga begitu kejam, dong, ya? Hehe.

*ditabok*

Sampai akhirnya, ada pendaki yang kehausan, gue kasih air minumnya, lalu gue malah ditinggal sama mereka. Double asemik lagi namanya.
 

Sambil menyelam, motret dulu.

Tapi emang kondisinya yang kurang bagus, sesampai di atas, ngga ada pemandangan yang bagus, cuma ada foto studio aja. Belakangnya cuma kabut. :( Sedihlah pokoknya. Udah capek-capek berjuang, malah dikasih pemandangan yang kurang bagus. Hiks. 

Deym. Putih gini. :(

Ganteng, kan?

Sunday, January 24, 2016

Lempar Balik ke 2015

Lohaaaa!! Udah lama banget ngga nulis. Terakhir nulis itu cuma puisi-puisi aja. Ya, tapi bukan di sini, sih. And yes, gue punya jiwa romantis juga kadang-kadang, lho. Hahaha.

Gak deng, bercanda.

Gue jawabnya sih masih, padahal mah tulisan terakhir aja itu bulan November. 

Banyak yang nanya, “Ben lo masih nulis ngga, sih?” 

*keplak diri sendiri*

*toyor lagi* 

Sekarang, gue mau bahas apa aja yang udah dilakukan selama tahun 2015, kemarin. Sebagian sih, udah ada tulisannya di blog ini. Sebagiannya belum. 

Duh! 

Jadi,  di 2015 kemarin, banyak hal yang dilakuin, deh. Setiap jeda 3 bulan pasti ada aja kegiatan keluar rumahnya.

Di awal 2015, gue melakukan pendakian ke gunung Sindoro, tapi sayang, sampai saat ini, tulisannya belum pernah terbit. Maapkeun. Soon, deh. Nanti dicari dulu kerangka tulisannya, soalnya, gue pelupa, jadi setiap habis jalan-jalan, gue tulis kerangkanya, dan lupa naronya. Kebiasaan.

Untung aja, gue ngga lupa kalo gue itu cowo pas kalo lagi ke toilet, yaa.

Setelah itu, gue tetep melakukan pendakian kembali, kali ini di sekitar bulan Mei 2015. Ke salah satu gunung tertinggi di Jawa Barat. Kalian bisa baca tulisannya di sini. Naik gunung ini, punya pengalaman unik. Dari menghabiskan waktu di bis Jakarta-Cirebon dengan berdiri. Kemudian ngomelin anak orang, lalu ngerasa punya sensitifitas yang tinggi di sekitar gunung tersebut.

Yang bikin gue sadar, “Setiap gue melangkah di pendakian gunung, gue ngga berjalan sendirian”. Maksudnya, ada yang selalu ngikutin, dimana ada yang bagus atau engga.

Dan kalo ngga salah inget, gue juga melakukan pendakian yang gagal. Dua-duanya ke TNGP. Pertama gagal dapet simaksi (padahal udah ngurus sama calo), kedua, Cuma sampai di Kandang Badak. Yep, ngga selamanya, gue memaksakan sampai puncak. Karena naik gunung itu nyari senengnya, ngga selalu puncak.  

Ya, walaupun, kalo sampai puncak bisa memiliki prestasi sendiri, sih. And, pengen sih nulis dua hal itu, tapi lain waktu kali, ya.  Ingatkan gue, jika berkenan.

Setelah menghabiskan banyak waktu di gunung, gue sepakat sama diri sendiri, demi menjadi anak outdoor yang sesungguhnya. Gue mesti main ke pantai lagi.

Dan, gue bener-bener ketagihan, main air. Ya walaupun awalnya, gue sama sekali ngga bisa snorkeling atau apapun.  Dari gue yang awalnya anti air banget, sampai gue suka sama air. Mungkin hidup gue lebih cocok dengan air, yaa. Misalnya, jualan air isi ulang, gitu? Cocok, nggak?  

Tahun 2015, gue sukses main air di Pulau Bira, Pulau Air dan Pahawang (Pahawangnya dua kali), yang bikin kantong gue sesek di bulan Desember kemarin. Eh pas gue cek, emang gue aja yang udah gendutan langsingan, jadinya sesekan, deh.  

Sampai saat ini, kamu bisa baca tulisan tentang Pulau Bira di sini. Ataupun tentang Pulau Air (here).  

Oh iya, saat ini, gue lagi jadi finalis acara e-poster yang dibuat oleh @IndonesiaFlight, lho.


Kalau kalian, setidaknya, mau bantu gue. Kalian bisa, like foto e-poster punya gue di linkini,  ya. Suaramu, ku nanti, lho. Saat ini, gue di posisi keempat, dari enam finalis. Jadi, mohon dibantu, yaa. Hehe.

Terus, apalagi, ya. Hmm, ternyata gue juga naik gunung lagi ke TNGP, kali ini, gantiin orang yang gagal naik. Ya, walaupun begitu, akhirnya gue bisa tau yang namanya Tanjakan Setan. Selama ini, taunya cuma anak setan. 

Kayanya di 2015, hanya segitu aja, deh, yang gue inget.

Maklum, pelupa. Entah apa jadinya, kalo gue sudah tua, kalo soal beginian aja lupa terus. 

Eh iya, gue juga beli perlengkapan alat buat freedive, dan begonia gue, mask pecah karena ketiban pantat gue yang bohai ini. Rest in peace, Maskbrother. Jasamu akan ku kenang.

HIKS :((((

Nah di 2016, gue masih pengen jalan-jalan. Entah di hati orang atau di pikiran kamu. Mungkin juga di sela-sela bengongnya kamu. Halah.

Rencananya, ada main airnya, main gunungnya atau main apa aja yang bisa buat gue seneng. Asal jangan mainin perasaan wanita aja. Gak baik soalnya. 

By the way, gue mau ikutan tes IELTS juga, sih. Doakan beneran terwujud ya kejadian itu. Gue bisa dapat “Amin”?

Kayanya, cukup segitu dulu aja, deh. Semoga gue tetep bisa nulis ya setiap dua minggu sekali. Doakeun.

Dan terakhir, gue jual tiket nih, buat satu orang, sih. Tujuannya ke daerah Nusa Tenggara. Harganya, bisa nego, sedikitlah dari harga normal. Maskapainya itu Garuda. Temen batal ikut ke sana.

Kalo berminat, kalian bisa email gue di benba.yogaku@gmail.com. Jika kalian bener-bener berminat, bisa kontak gue sekarang juga, biar diurus untuk penggantian namanya.

Terima kasih sudah rela menghabiskan waktunya di blog ini.  :))

Tuesday, October 13, 2015

Ke Papandayan Aja Nyasar!

“Tar tar, tunggu dulu.”

***

Mendaki gunung itu emang gampang (kalo kalian ngeliat film 5cm, sih), cuma janjian di stasiun kereta dan bawa kerdus indomie. Eh itu namanya malah mudik, ya. Hehe. Tapi ya karena film itu juga sih, setiap orang berlomba untuk bisa mendaki gunung. Gak peduli punya riwayat penyakitnya. Semua terhipnotis…

.

… macem kaya gue gini. Zzzz.


Mau dikatakan apalagi sih, emang bener nyatanya. Buktinya sekarang ini, beeeeeuh. Banyak amaat yang naik gunung. Apalagi gunung TNGP, syusaaah bener sekarang kalo nyari slot buat mendaki. Makanya sekarang banyak calo-nya deh tuh TNGP. Tapi tenang kalo gue maaaaaah……… ya pake calo juga sih.
Kenapa? Karena gue udah punya pengalaman saat melakukan pendaftaran saat normal. Ribet abis sekarang.

Ah, ganti topiklah.

Mendaki gunung itu perlu persiapan, misal peta, gps dan kompas. Sekarang, percaya deh, berapa persen sih pendaki yang bawa begituan ke gunung. Sedikit bro. Belum tau persennya, sih. Karena belum melakukan survey secara besar-besaran. Pernah sekali nanya temen gue, di saat kita lagi mau mendaki ke gunung yang belum sama sekali kita sentuh.

“Udah punya trek atau petanya belum?” Kata gue menanyakan persiapan yang sudah disusun rapih.

“Belom.”

“Lho kok belom?” Tanya gue dong, agak penasaran.

“Emang penting apa, jalurnya juga jelas, kok.” Bantahan temen gue.

Dari sana, gue yakin sih, temen gue yang udah jelas sering banget naik gunung aja, masih begitu kadang-kadang. Apalagi, para cabe-cabean yang sering naik pake celana senam/olahraga dan hotpants doang ke gunung.

Nah, pernah gak sih lo, udah punya peta dan gps bias nyasar?

Gue sayangnyaaaa kamu pernah.

***

Jadi ceritanya begini *ala ala dalang*

Sebelumnya, udah diterbitin tulisan buat prolognya. Kalian bisa baca di sini. Sampai pos pendaftaran kita siang hari, di pos Camp David. Otomatis rombongan kami melakukan persiapan pendakian dulu, pindah-pindahin tenda, makanan dan peralatan masak. Si rombongan yang bareng kami juga sama.

Lalu, setelah persiapan siap, kita mulai pendakian. Sekitar jam 4 atau 4.30 gitu. Ya lumayan sore-lah. Sebenernya, jarak dari pos pendakian awal ini cuma 1-2 jam ke pos campingnya. Tapi emang karena kesotoyan yang tiada duanya, kami ingin melakukan pendakian sampai pos camping yang di atas (yang sebenernya udah dilarang, ini baru kami ketahui setelah kejadian tersebut dari bapak-bapak ranger).

Dan juga cuma bermodalkan peta serta GPS yang tertera pada aplikasi Oruxmaps gue. Kami memulai pendakian yang bener, dong.

Kawah Pertama.

Kami ketika sampai di kawasan kawah yang pertama ini, masih yakin kalo “We are still on track”. Jam tangan menunjukkan pukul 5, kami masih foto-foto dengan background uap yang mengepul, ada yang gaya ngerokok, kentut (itu gue) dan yang biasa aja (tangan dilipet macem pejabat).

Setelah itu, kami mencoba maju, dari trek yang awal, kita ngelewatin hutan mati. Bukan, bukan hutan mati yang biasa buat foto-foto di atas sebelum Tanjakan Mamang itu. Melainkan hutan mati yang berbeda punggungan dari gunung ini. 



Kawasan Vegetasi

Adzan Maghrib berkumandang, kami sedang beristirahat setelah beberapa kali salah jalan. Maju kemudian mundur, terus maju lagi terus mundur lagi, cepat lama-lama menjadi lambat.

Udeh gausah mikir yang engga-engga. Ini emang kaya gitu kejadiannya, setelah maju beberapa meter, lalu salah jalan, kemudian mundur lagi. Awalnya kaki masih lincah sampe kaki, minta diurut-urut, terutama gue, yang lagi cantengan sakit kakinya.

Kami istirahat, cuaca sudah semakin gelap dan angin semakin kencang adanya. Kedinginan dong. Mau peluk, tapi gak ada pacar. Lagipula gak tau juga sih pacarnya siapa. Haha. Stop.

Saat pukul tujuh

Entah beberapa kali mencoba, tapi tetep aja….nyasar. “Dulu gue lewat sini, kok. Jalannya jelas”

Teman gue, si penunjuk arah, sebut saja Tampan. Jadi si Tampan tetep keukeuh buat ngelanjutin dengan kalimat selalu "Tar tar entar dulu", karena dia pernah nembus ke atas dan berhasil. Namun kali ini, nyatanya salah duga. Kita nyasar, men.

N-Y-A-S-A-R

Mau gue mau, gue yang emang anaknya gak mau nyasar, nyaranin buat turun aja, balik lagi ke start awal, pas kita memisahkan diri dari jalur resminya. Ditambah kondisi yang udah nyut-nyutan kakinya, mau gak mau gue harus kayak gitu.

Dan, di saat kita turun. “Kalian cepat turun. Tunggu di sana. Jangan kemana-mana.” Ternyata kita udah diliatin sama orang-orang. Mereka itu ranger. Beraaaak maksimal!

Mau gak mau kami menunggu dong. Daripada disangka yang engga-engga. Ye kan? Lalu, di saat mereka sudah menghampiri kami dan bertanya “Kalian nyasar, ya?”

Kami serentak menjawab “Enggak kok, Pak. Kami habis foto-foto aja.”

Sebelumnya, kami memang berdiskusi mau jawab apa ketika nanti mereka datang menghampiri. Daripada kami disalahkan karena memang salah. Tapi secara kami adalah keturunan Indonesia, yang memang wataknya gak nrimo kalo disalahin.

Kami sepakat saat itu untuk jawab “Engga kok Pak, kita gak nyasar. Cuma foto-foto aja.”

Kenapa begitu? Karena narsis itu gak akan pernah salah.

Note:
Penulis memahami kegiatan di atas adalah perbuatan yang melanggar peraturan. Sekaligus terbitnya tulisan ini, penulis memohon maaf jika ada pihak yang merasa terganggu untuk hal tersebut

Tuesday, September 1, 2015

Pulau Bira : Pulau yang Ditinggalkan

Di awal bulan Agustus kemarin, gue dan teman-teman meenyempatkan diri untuk berkunjung ke daerah Kepulauan Seribu. Ini pertama kalinya buat gue nyebrang ke daerah Kepulauan Seribu. Cupu ye.
 
Sekalinya nyebrang, eh langsung muntah. Cupu kuadrat, ye.
 
Jadi perjalanan ini, tujuannya adalah ke Pulau Bira. Lebih tepatnya Bira Besar. Karena Bira Kecil adalah milik keluarga Cendana. Bukan yang lain. Si Bapak-bapak yang mendampingi kami, menjelaskan kalo kebanyakan pulau di Kepulauan Seribu itu milik keluarga Cendana.


Sempet kepikiran, sih, dulu pas jamannya OrBa. Si Bapak Presidennya, bilang gini ke anak-anaknya.

“Ayo-ayo, sini cium Ayah. Nanti kalo udah cium Ayah, Ayah janji bakal ngasih pulau, deh.”

Eh ini pemikiran gue aja, ya, plis jangan diaduin gitu. Gue takut diapa-apain karena belum ngapa-ngapain.

Oke kembali ke Pulau Bira.

Menuju Pulau Bira membutuhkan waktu kira-kira 3-4 jam. Pertama, harus menyebrang ke Pulau Harapan, nah ke Harapan ini membutuhkan waktu 3 jam. Karena sebenarnya, Pulau Bira ini letaknya lebih dekat dari Jakarta dibanding Pulau Harapan.

Oh iya, sekarang lewatnya pelabuhan Kaliadem ya, jangan Muara Angke. Move on ke Kaliadem, dong. Jangan ke yang lama terus. Halah.

***

Sesampainya di Pulau Bira, ih anjriiittt…..keren pake bangeeeet. Airnyaaaaa itu jernih bangeeeeeet. Bisa ngeliat karang dari atas tempat-yang-dipake-buat-berhentiin-kapal. Kok gue lupa ya namanya itu.



Eh dermaga deng maksudnya. Oon banget ye gue.

Kan apa dibilang, kan?

Lalu, semakin dalam gue masuk ke pulau, kok pulaunya nyeremin, sih. Lobby yang kosong, kolam renang yang airnya sudah hijau dan resort yang agak gimana gitu. Tapi, suasananya tenang banget di sini. Paslah, ya……………..buat ikutan acara ‘Mister Tukul Jalan-jalan’


Agak gimana gitu, ya


Di hari terakhir gue di sana, sempet nanya sama Bapak yang jaga pulau.

“Pak, emang ini pulau udah berapa lama kaya gini?” Tanya gue membuka obrolan di pagi hari setelah sarapan pake telor dicabein yang rasanya gak kalah enak sama telor cabe-cabean ala warteg.

“Hmm, dulu pas bom bali, pulau ini udah mulai sepi, nah pas tahun 2005, karena sudah gak ada yang dateng, yang punya resort udah gak mau handle lagi. Mungkin karena rugi, soalnya turisnya udah gak ada yang dateng. Tapi gaji karyawannya harus tetep keluar.”

“Oh gitu, Pak. Emang dulu rame banget, ya, Pak?”

“Dulu mah setiap minggu pasti banyak yang dateng, biasanya bule semua isinya.”

“Lho, tadi saya lihat ada bule, Pak?” Kata gue heran, karena mata gue terlanjur takjub ngeliat bule.

“Iya emang, tapi itu mah bule yang kerjanya di Indonesia. Bule depok.”

“Lho, beda emang Pak?” Sambil ngasih cemilan ala kadarnya ke Bapaknya.

“Iya, kalo dulu mah, beneran bule yang pengen liburan yang ke sini, bukan yang kerja. Dulu di pulau depan itu, pulau yang dijadiin tempat kasino pas jaman dulu.”

“Oh iya?”

“Iya, di sini juga, banyak orang asing yang bawa cewek-cewek muda kalo dulu mah, dari orang korea ataupun jepang.”

Nah, itu sepenggalan percakapan umum yang gue tanyakan ke Bapaknya. Karena temen gue ada yang punya penglihatan, maka sekalian gue tanyain hal-hal yang agak mistis.

“Pak, selama Bapak nungguin ini pulau, ada kejadian aneh, gak?”

“Gak ada kok.” Kata si Bapak yang kurang meyakinkan.

“Bener Pak gak ada apa-apa?” Tanya temen gue yang gak percaya, karena si temen ini ngeliat ada dua ‘orang’ di kolam renang.

“Ya kalo saya sih, gak pernah diliatin gitu, gatau deh kalo orang” Kata si Bapak yang terpaksa terpojok.

***
Tapi secara overall, pulau ini layak banget dikunjungin, kalo perlu kalian harus muterin ini pulau. Namun, menurut gue, mending minta ditemenin sama si Bapaknya kalo lagi pengen muterin, karena takut kejadian yang aneh-aneh. Ya namanya juga pulau yang tak berpenghuni gitu.

Kalo kenapa-kenapa kan jadi takut kenapa-kenapa, ya.

Duh apadeh.