Showing posts with label Blog. Show all posts
Showing posts with label Blog. Show all posts

Friday, February 2, 2018

Halo!

Hai!
Apakabar? Udah lama banget gue ngga ngepost. Semoga kalian baik-baik aja dan selalu sehat selalu. By the way, gue juga sehat, kok. Eh, gak ada yang nanya, ya?

Kenapa hampir setahun ngga nulis di blog ini? Alasannya, karena gue merasa ngga bisa nulis lagi. Iya, kayanya lemah banget, ya. Tapi namanya cowok, sering banget gue ...


Dan meraba-raba di kamar gelap, sambil meminta tisu yang baru aja abis. Yaampun, dosa banget gue bahasnya beginian. 

Intinya, di 2018 ini, gue mau sering nulis, deh, entah karena apa. Jalan-jalan, cinta-cintaan ataupun naik gunung. Semoga sih bisa nulis dan menghibur lagi, meskipun gue ngga lucu-lucu amat. Udah gitu doang, kok.

DAN ADIOS! 
Kalo habis diputusin, gausah sedih, mikir aja kenapa lo sampe diputusin, macem gue.


Sunday, January 24, 2016

Lempar Balik ke 2015

Lohaaaa!! Udah lama banget ngga nulis. Terakhir nulis itu cuma puisi-puisi aja. Ya, tapi bukan di sini, sih. And yes, gue punya jiwa romantis juga kadang-kadang, lho. Hahaha.

Gak deng, bercanda.

Gue jawabnya sih masih, padahal mah tulisan terakhir aja itu bulan November. 

Banyak yang nanya, “Ben lo masih nulis ngga, sih?” 

*keplak diri sendiri*

*toyor lagi* 

Sekarang, gue mau bahas apa aja yang udah dilakukan selama tahun 2015, kemarin. Sebagian sih, udah ada tulisannya di blog ini. Sebagiannya belum. 

Duh! 

Jadi,  di 2015 kemarin, banyak hal yang dilakuin, deh. Setiap jeda 3 bulan pasti ada aja kegiatan keluar rumahnya.

Di awal 2015, gue melakukan pendakian ke gunung Sindoro, tapi sayang, sampai saat ini, tulisannya belum pernah terbit. Maapkeun. Soon, deh. Nanti dicari dulu kerangka tulisannya, soalnya, gue pelupa, jadi setiap habis jalan-jalan, gue tulis kerangkanya, dan lupa naronya. Kebiasaan.

Untung aja, gue ngga lupa kalo gue itu cowo pas kalo lagi ke toilet, yaa.

Setelah itu, gue tetep melakukan pendakian kembali, kali ini di sekitar bulan Mei 2015. Ke salah satu gunung tertinggi di Jawa Barat. Kalian bisa baca tulisannya di sini. Naik gunung ini, punya pengalaman unik. Dari menghabiskan waktu di bis Jakarta-Cirebon dengan berdiri. Kemudian ngomelin anak orang, lalu ngerasa punya sensitifitas yang tinggi di sekitar gunung tersebut.

Yang bikin gue sadar, “Setiap gue melangkah di pendakian gunung, gue ngga berjalan sendirian”. Maksudnya, ada yang selalu ngikutin, dimana ada yang bagus atau engga.

Dan kalo ngga salah inget, gue juga melakukan pendakian yang gagal. Dua-duanya ke TNGP. Pertama gagal dapet simaksi (padahal udah ngurus sama calo), kedua, Cuma sampai di Kandang Badak. Yep, ngga selamanya, gue memaksakan sampai puncak. Karena naik gunung itu nyari senengnya, ngga selalu puncak.  

Ya, walaupun, kalo sampai puncak bisa memiliki prestasi sendiri, sih. And, pengen sih nulis dua hal itu, tapi lain waktu kali, ya.  Ingatkan gue, jika berkenan.

Setelah menghabiskan banyak waktu di gunung, gue sepakat sama diri sendiri, demi menjadi anak outdoor yang sesungguhnya. Gue mesti main ke pantai lagi.

Dan, gue bener-bener ketagihan, main air. Ya walaupun awalnya, gue sama sekali ngga bisa snorkeling atau apapun.  Dari gue yang awalnya anti air banget, sampai gue suka sama air. Mungkin hidup gue lebih cocok dengan air, yaa. Misalnya, jualan air isi ulang, gitu? Cocok, nggak?  

Tahun 2015, gue sukses main air di Pulau Bira, Pulau Air dan Pahawang (Pahawangnya dua kali), yang bikin kantong gue sesek di bulan Desember kemarin. Eh pas gue cek, emang gue aja yang udah gendutan langsingan, jadinya sesekan, deh.  

Sampai saat ini, kamu bisa baca tulisan tentang Pulau Bira di sini. Ataupun tentang Pulau Air (here).  

Oh iya, saat ini, gue lagi jadi finalis acara e-poster yang dibuat oleh @IndonesiaFlight, lho.


Kalau kalian, setidaknya, mau bantu gue. Kalian bisa, like foto e-poster punya gue di linkini,  ya. Suaramu, ku nanti, lho. Saat ini, gue di posisi keempat, dari enam finalis. Jadi, mohon dibantu, yaa. Hehe.

Terus, apalagi, ya. Hmm, ternyata gue juga naik gunung lagi ke TNGP, kali ini, gantiin orang yang gagal naik. Ya, walaupun begitu, akhirnya gue bisa tau yang namanya Tanjakan Setan. Selama ini, taunya cuma anak setan. 

Kayanya di 2015, hanya segitu aja, deh, yang gue inget.

Maklum, pelupa. Entah apa jadinya, kalo gue sudah tua, kalo soal beginian aja lupa terus. 

Eh iya, gue juga beli perlengkapan alat buat freedive, dan begonia gue, mask pecah karena ketiban pantat gue yang bohai ini. Rest in peace, Maskbrother. Jasamu akan ku kenang.

HIKS :((((

Nah di 2016, gue masih pengen jalan-jalan. Entah di hati orang atau di pikiran kamu. Mungkin juga di sela-sela bengongnya kamu. Halah.

Rencananya, ada main airnya, main gunungnya atau main apa aja yang bisa buat gue seneng. Asal jangan mainin perasaan wanita aja. Gak baik soalnya. 

By the way, gue mau ikutan tes IELTS juga, sih. Doakan beneran terwujud ya kejadian itu. Gue bisa dapat “Amin”?

Kayanya, cukup segitu dulu aja, deh. Semoga gue tetep bisa nulis ya setiap dua minggu sekali. Doakeun.

Dan terakhir, gue jual tiket nih, buat satu orang, sih. Tujuannya ke daerah Nusa Tenggara. Harganya, bisa nego, sedikitlah dari harga normal. Maskapainya itu Garuda. Temen batal ikut ke sana.

Kalo berminat, kalian bisa email gue di benba.yogaku@gmail.com. Jika kalian bener-bener berminat, bisa kontak gue sekarang juga, biar diurus untuk penggantian namanya.

Terima kasih sudah rela menghabiskan waktunya di blog ini.  :))

Saturday, August 29, 2015

5 Kebiasaan Pendaki Jika Berada di Puncak

Ngapain sih naik gunung? Emang asik? Ah, palingan untuk update di foto 17-an aja. Iya, kan? Mungkin juga buat pamer kalo lo pecinta alam?

Tapi buat gue, naik gunung itu punya arti. Punya kelebihan tersendiri gitu. Selain buat foto, yang nantinya fotonya bakal buat ganti-ganti profile picture di Whatsapp.

Setelah beberapa kali mendaki, kayaknya gue punya rekaman sendiri seperti apa kegiatan para pendaki pas udah di puncak. Nah, berikut menurut sepenglihatan gue :

1. Foto Selfie

Sumber : Dokumen Pribadi

Gak heran sama kegiatan yang satu ini, yang karena sudah menjadi kegiatan umum di khalayak ramai, sih. Tapi, selfie di puncak bakal memberikan feel yang berbeda dari biasanya. Ya, kayak selfie pas lagi kebelet boker, gitu.

2. Nulis Nama Pacar


Sumber : Dokumen Pribadi

Sebelum melakukan pendakian, pasti banyak banget yang udah nyiapin kertas yang udah ada tulisannya, ataupun kertas kosong dan spidol. Kegunaannya ya satu, nulis nama pacar, dan bilang “Happy Birthday, xxxx”. Tapi gue pernah ngelakuin juga, ya meskipun bukan nama pacar, sih.

*toyor diri sendiri*

3. Foto dengan Atribut Bendera Merah Putih



Sumber : Dokumen Pribadi

Entah kenapa, banyak banget pendaki yang melakukan ini, mungkin buat membuktikan kalo mereka sayang Indonesia pas di atas gunung atau juga memberikan penglihatan bahwa Indonesia itu keren. Ya, bisa jadi juga, sih.

4. Foto Wisudaan

Sumber : Dokumen Pribadi

Ah, ini kayaknyaaaaa…

Gue bangeeeet. Hahaha. Jangan dilihat modelnya, ya. Takut muntah.

Gausah diomongin lagi, deh,

5. Masak Indomie

Gak heran, banyak pendaki yang bawa kompor kalo lagi di puncak, tujuannya ya buat masak-masak Indomie, karena masak Indomie di puncak itu mungkin punya rasa yang berbeda dari masak Indomie di rumah. Jangan-jangan, nanti bakal ada warung Indomie lagi pas di puncak.

Nah, karena pengalaman pendaki yang masih nubie ini. Maka beberapa hal di atas yang bisa gue tarik kesimpulan. Coba kalian naik, mungkin punya kebiasaan yang berbeda. Cenderung unik, mungkin?

Tapi sekali lagi, jangan foto mesra bareng pasangan di depan gue, ya. Kalo misalkan nanti ketemu. Apalagi foto pasangannya yang agak gimana gitu. Agak nyesek di gue nantinya. Please ya.

Jadi, adakah kebiasaan yang lain?

Tuesday, June 30, 2015

Ngobrol Seru Bareng Boy Thohir

Beberapa waktu lalu, gue punya kesempatan berbincang-bincang, dong, sama seorang Presiden Direktur sebuah grup perusahaan. Orangnya baik, ga neko-neko dan sayang keluarga banget, deh, pokoknya.

*jadi ngebayangin punya Bapak seperti beliau*  

 Oh iya, namanya Pak Boy Thohir. Hmm, namanya aslinya sih, Garibaldi Thohir. Pria kelahiran, 1 Mei 1965 ini, adalah seorang Presiden Direktur dari sebuah grup bernama Adaro Energy. Kalian pasti pada mikir, siapa sih beliau ini? Kok namanya kaya yang punya Inter Milan ntu.


Dan yaps, beliau adalah kakak kandung dari Pak Erick Thohir, si pemilik klub Liga Italia tersebut. Dengan kata lain, beliau juga anak dari Teddy Thohir, dong, ya? Benar atau tidak? Tul atau engga?. Gak tau Pak Teddy Thohir juga? Itu lho salah satu pemilik PT. Astra International.

Sepak terjang Pak Boy gak kalah hebatnya dari adik maupun ayahnya. Pada awal karirnya, beliau bergabung dalam Astra, perusahaan yang notabene milik ayahnya. Setelah dikiranya cukup belajar, beliau beberapa kali membuat bisnis, ada yang properti, keuangan dan lain-lain. Namun titik balik kesuksesannya, berawal dengan pembelian saham Adaro Energy dari New Hope, perusahaan batu bara yang berasal dari Australia. Beliau dan rekan-rekannya akhirnya sukses membawa Adaro Energy menjadi produsen batu bara terbesar kelima di dunia.

Gokils gak?

Cukup ceritanya mengenai perusahaan beliau ini. Gak ada habisnya, deh. Pengen juga sukses seperti beliau. Nah, pada waktu lalu, gue sempet menghadiri Buka Puasa Bersama Adaro Group ini di kawasan GOR Soemantri, Kuningan.



Acara ini disambut antusias sama karyawan-karyawati dari Adaro Group ini, maupun peserta bukber lainnya. Dengan judul acara “Buka Puasa Bersama 1000 Anak Yatim”. Acara buka puasa bersama tersebut diadakan setiap tahunnya oleh perusahaan ini.

“Tahun kemarin, kita ngundang Cherrybelle, kemudian sebelumnya Coboy Junior, tapi buat tahun ini, gak usahlah kita ngundang yang begituan, cari tema yang beda” Kata Pak Boy sambil menirukan instruksinya saat itu kepada karyawannya.

Beruntung gue bisa ngobrol sama Bapak tiga orang anak ini. Banyak banget ilmu yang bisa diambil dari beliau, tapi ini ada beberapa poin penting yang gue dapet tarik kesimpulannya.

 Duh, Pak Boy dikelilingi sama ibu-ibu
Sumber : Dokumentasi Pribadi

"Reputasi itu gak bisa dibeli, tapi dibangun." (Boy Thohir, PresDir PT Adaro Energy)

Menurut gue, bener banget perkataan beliau, walaupun Pak Boy yang bisa mampu beli segalanya. Kepercayaan dari klien itu tetep aja ga bisa dibeli, melainkan didapat atau dibangun.

Sama aja kaya twitter, walaupun kalian beli followers sampe 1 juta pun, kalo isinya twit kalian begitu aja, mana ada klien-klien (twitterians) yang mau klik tombol follow di laman twitter lu.

"Mengurus perusahaan sama aja kaya mengurus anak, perlahan-lahan tumbuh." (Boy Thohir, PresDir PT Adaro Energy)

Duh bener banget. Gak ada yang instan, bisa aja sukses cepat, tapi hilangnya juga cepat. Pantesan beberapa waktu lalu, ada beberapa perusahaan yang langsung sukses, namun hilangnya juga cepat.

Sebenarnya, sama kayak kita ngurus blog, sih. Blog gak ada yang bisa langsung sukses, perlahan tapi pasti. Beberapa teman blogger, yang awalnya emang cuma ngeblog, eh tapi jadi blogger terkenal gitu. Kan jadi iri :(.

Memang, perkataan beliau membuat gue tertohok. Impian gue yaitu memeiliki bisnis yang sukses, tapi masih kepikiran “Gimana sih biar bisnis bisa makin besar dan semakin besar?”. Dan iya, langsung kejawab pas ngobrol sama beliau.

"Resiko seorang wanita adalah saat mencari pasangan, tetapi resiko pria adalah saat menentukan siapa yang pantas untuk menjadi ibu dari anak-anaknya nanti." (BoyThohir, PresDir PT Adaro Energy)

Dan, gue sempet mikir “Anjrit bener banget.”. Siapa sih yang kepikiran gitu, gue, sebagai seorang pria, paling cuma mikirin siapa jodoh gue nanti, gimana cari wanita yang cantik dan cocok banget buat dijadiin istri. Sama sekali, pikiran gue belum sampai sana, sih. Untung aja, gue belum disuruh nikah sekarang-sekarang ini, kalo iya mah, bisa pusing tujuh keliling.

Nah, di atas itu poin-poin yang menurut gue sangat penting. Dan akhirnya gue bisa ngobrol sama seorang Presiden Direktur. Aaaak. Terakhir nih, beliau sempat kelimpungan saat tau anak-anaknya bakal melanjutkan pendidikan di luar negeri, lho. Kebayang kan, gimana orangnya? Sayang keluarga banget, kan?

Keseruan ngobrol bareng Pak Boy
Sumber : Widya Darma

Pak Boy Thohir, terima kasih atas masukan-masukannya beberapa waktu lalu.

Friday, January 24, 2014

Goa Pindul : Dompet Sialan



Jogja, Yogya, atau Djogja? Sama, gue juga masih bingung. Apasih arti sebuah nama? Ya nama memang penting, jadi ga boleh menyepelekan sebuah nama ya teman-teman. Seperti nama gue, banyak yang bilang aneh, tapi orangnya ganteng, kok.

Kota ini lebih dikenal dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta, menurut buku pintar edisi 1996. Apa masih istimewa? Jelas masih, tapi tergantung sih, kalo kalian ada yang pernah putus di sini sih, udah gak istimewa lagi pasti.

Kok jadi ngawur?

Jadi, kota ini merupakan peleburan Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Paku Alaman. Karena pengucapan yang terlalu panjang, maka kota ini sering disingkat dengan kata Jogja, Yogya atau DIY. Itu menurut sumber yang gue baca, barusan.

Jogja punya banyak tempat wisata, namun gue dan Ryo memilih berlibur ke Goa Pindul, dengan budget pas-pasan. Iya pas punya uang, karena sehari Cuma makan sekali, itu juga udah ditampung pake Promag. Obat ini manjur banget, gue jadi gak kelaperan selama liburan. Mantap.

“Ben, mau wisata apa aja, nih?” Tanya Ryo sesaat melihat brosur Goa Pindul.
Gue langsung ngecek dompet dan bilang “Yang paling murah aja.”
“Serius lo? Cuma caving basah doang?”
“Iya gapapalah, budget tipis ini.” Sembari  tangan gue membuka lipatan-lipatan dompet.

Sebelumnya, kami mengarah ke Goa Pindul dibimbing oleh sebuah alat yang bernama Galaxy Tab berukuran 7 inchi, yang sebelumnya jug ague gak pernah megang alat ini. Jadilah gue mati gaya, sampai nanya terus ke Ryo.

Beberapa kali berhenti, untuk sekedar nanya ke warga pinggir jalan.
“Goa Pindul ke arah mana ya, Bu?” Tanya gue
“Lurus aja dek, ikuti jalan, nanti juga ketemu.” Kata ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya.
“Kampret, kita berdua dibohongi kali ya ini, daritadi yang terlihat Cuma pohon doang nih, Yo?”Gue yang kebingungan.


 tuh hutan, kan?

“Eh noh Yo, ada petunjuk jalannya, ada tukang ojek lagi” Gue emang agak cerewet.
“Pak, ke Pindul ke arah mana, ya?”
“Yaudah ikut kita aja.” Nah lho, ada bapak-bapak dan seorang anak muda bilang begitu. 
Entah kena pelet apa, kita berdua malah ngikutin mereka. Duh gue parno. Jangan-jangan mereka penjahat yang bersembunyi di balik wajahnya yang polos atau mungkin juga mereka itu teroris yang sedang nyamar, lalu mereka mencari sepasang pengantin (perlu diketahui pengantin di dunia teroris itu adalah sang umpan).

Kami berdua mengikuti mereka dari awal, dan sampai di tengah perkebunan yang memanjakan mata kami. Surga.



Lalu, kami diajak berkelok-kelok melewati beberapa desa, dan gue langsung nanya, “Yo, lo hapal jalan baliknya kan, ya?”
“Kagak, udah ikutin aja dulu.”

Dalam hati, “Kampreeeeet, anakmu masih perjaka, maaak..”

Goa Pindul memang jauh banget dari perkotaan, tidak disarankan menggunakan angkutan lokal. Karena angkutan lokal hanya beroperasi beberapa jam, tidak seharian penuh. Jika pengen ke tempat ini, harus bawa kendaraan pribadi.

Kemudian, setelah kami membayar tiket masuk caving basah.  Kami diberikan rompi pelampung, dan diharuskan menitipkan tas ke penjaga. Dan kita sudah siap, sudah pake pelampung dan membawa ban masing-masing.

Dan kampret, di perjalanan gue baru sadar. “Yo, gue masih bawa dompet lagi nih di kantong.”
“Ah dudul, mau basah-basahan malah bawa dompet.” Ryo agak kesel.
“Cari plastik sono.” Kata Ryo memberi saran.

Perlu diketahui, bahwa tiket kereta yang akan membawa kami untuk pulang sedang ada di dompet gue. Matilah gue. Mau balik lagi nanggung kayak udah putus tapi masih minta balikan judulnya ini mah. Niat kembali ke pos penjaga, gue urungkan.

Kenapa gue urungkan? Pertama, gue udah jalan lumayan jauh, nyet. Kedua, memang jaraknya udah jauh, jadi gue males balik lagi. Ketiga, “Udah gapapa, paling juga ga basah” Saran dari guide.

Mana ga basah, nyeeet. Airnya dalem, meskipun pake pelampung, pasti akan basah juga iniiiih. Alhasil, gue sibuk mencari beberapa plastik bekas, agar bisa digunakan untuk pelindung dompet.



mending iket cinta daripada plastik

Masalah dompet mari dilupakan, lekas lanjut ke caving. Sebelum nyemplung, kita di-briefing dulu. Sepanjang bapaknya ngomong, gue baru sadar. Ini kok isinya keluarga semua yang dateng, mungkin gue doang berdua yang bukan berkeluarga. Asem attack.

Si bapak guide mulai nyemplung, kemudian disusul rombongan keluarga yang bareng sama gue. Lalu gue, terakhir Ryo.

Siang itu, di matahari yang menyingsing. Ryo mengenggam tangan gue dengan erat, erat sekali. Romantis banget. Seakan-akan gak mau lepas dari gue.

TAPI ITU EMANG INSTRUKSI DARI GUIDENYA, MONYEEEET. KALIAN GAK USAH LEBAY.

Oke sorry, capslock kepencet, gue masih gak terima kalo Ryo memegang jemari gue karena sebuah paksaan seorang bapak guide. Sedih. Banget. Gak terima. Oke, bercanda doang.

“Ben, lo gak ceritain cavingnya?” Kata pembaca yang budiman. Dan itu, elo, ya elo yang lagi baca.

Gue gak bisa berkata apa-apa. Goa Pindul itu wisata Jogja yang paliiiiiiiiiiiiing……….ga gue nikmatin. Bayangin aja, baru masuk goa-nya, eh udah ada yang teriak, masuk lebih dalam lagi, teriaknya malah lebih kenceng, ampe bilang sakit-sakit gitu.

Eh maaf, itu pilem bokep yang barusan gue tonton. Hehe.

Tapi, memang kenyataannya emang gitu, masuk ke dalam cuma ada kelelawar dan teriakan gadis-gadis desa.” AAAAAAAAAAAAA.” Kayak gitu deh teriaknya, bayangin sendiri ya.

“Ben lo mau lompat kagak?” Kata Ryo yang asik nge-candid gue.
“Kagak ah, gue bawa dompet. Nanti basah lagi.”
“Udah dompetnya gue pegang sini. Lo kalo mau lompat-lompat aja.” Bilang Ryo perhatian. Sok sweet ya.
“Engga ah, balik aja udah. Pak, balik aja, Pak.” Gue ngomong ke Ryo dan si bapak guide.
Nanggung.

Gue ke Goa Pindul dengan perasaan nanggung yang ga basah. Cuma celana dalem gue doang yang basah. Gak terima.

Ryo, si tukang sewa ban, juga hati

DASAR DOMPET SIALAN!!!!