Showing posts with label Mountaineering Colony. Show all posts
Showing posts with label Mountaineering Colony. Show all posts

Thursday, March 26, 2020

Hey 2020!

Hey.

Hey.

Hey.

Oh, baru kali ini lagi mau nulis beberapa hal, dua tahun ke belakang, gue bener-bener gatau kenapa bisa mengacuhkan blog ini. Serius. GUE. GAK. TAU. SAMA. SEKALI. Temen-temen gue bilang, “Ben lo masih ngeblog?” Gue selalu jawab, “Emang ada yang mau baca?”

Iya, gue ga sepercaya diri gitu sama diri sendiri. Padahal nulis itu kegiatan ya yang gue sukai, bukan sesuatu yang terpaksa gitu lho. Tapi, yaudahlah, ujung-ujungnya gue ga nulis juga. Bukan masalah hype-nya yang memang sudah berkurang untuk dunia tulis menulis ini, sih.

So, mari kita lanjutkan

***

How’s your life until now? Good, ya? Doing well? Bad? Oh, maaf, bukannya mau pakai bahasa Inggris, tapi sejak 2018, gue les di EF sih. *menyombongkan diri sendiri*. Ya, alesannya sih buat nambah ilmu aja dan bingung habisin uang. Hasek. *ditonjok*

Tapi, bener deh, sepemikiran gue itu, gak ada yang lebih baik menghabiskan uang di pengembangan diri kita sendiri. Tsaaaaaaah~~~

Banyak yang nanya, sepengaruh apa sih les Inggris begitu. Penting ga penting, sih. Gue ikut les waktu itu ingin memperdalam ilmu, ya siapatau gue punya kesempatan buat kuliah di luar negeri, kan. Siapatau. Manusia ga ada yang tau. Cuma Tuhan yang tahu. Ya kan?

Jadi, kalo sekarang mau tanya lagi, gue jawab "Ya biar ada pengeluaran aja itu kartu kredit yang gue pake"

Gimana? Bagus ngga jawaban gue? Baguslah ya pasti.

Jadi selanjutnya gimana nih? Bahas apa?

Bahas hiking?

Bahas pekerjaan?

Bahas percintaan?

Ah, gue bahas hiking aja deh.

Setelah baca nih blog, ternyata ga setiap pendakian, gue masukin ke sini. Ya kaya gue pergi ke Gn Slamet berduaan aja enggak ada.

Eh eh eh by the way, gue habis naik gunung deng tahun kemarin, ya kecil-kecilan gitu. Pergi ke Gn Gede. Rasanya masih sama, kaya kisah yang udah-udah gitu. Capek deketin – jalanin – udahan – jalan pulang.



Eh itu bahas naik gunung atau kisah cinta gue? Hmm.

Tapi naik gunung memang sangat berkesan sih, menurut gue. Pengalaman yang gak bisa diganti. Karena belajar itu learn, new itu baru. Kenapa jadi jokes om-om gini.

***

Lalu, dua tahun ini gue juga disibukkan banyak hal sih. Terutama masalah nyokap yang selalu nonton yutub setiap harinya. Iya sesering itu. Untung dia belum terjun ke dunia Instagram, sih. Kalo udah, jujur gue nyerah. Setiap hari pasti dia nanyain.

Pernah nih, sekali-kalinya.

Eh, gak deng sering.

Di jam kerja, dia nelpon gue buat nanya. Buat nanya.

“Ben, wifinya rusak ya?

“Ben, wifinya ga bisa, nih.”

“Abang wifinya kapan dateng?”

Kalo kalian follow twitter, mungkin kalian akan sering liat gue mengeluh ke salah satu provider wifi tersebut, ya karena sebulan bisa sering aja gitu.

Gue kehabisan kata-kata deh pokoknya sama tabiat nyokap yang satu itu. Di saat meeting, kalo nyokap telpon tuh gue kira akan sebuah masalah yang lebih penting. Tapi ternyata, gak lebih dari persoalan WIFI.

Iya. WIFI. Bayangin, gue keluar ruangan meeting hanya denger suara dia bilang “Ben wifinya ga bisa.”

Disangka gue teknisi WIFI kali ya, kalo alat itu rusak. Mungkin kalian bertanya, kenapa gak dipakein paket data aja Ben. First of all, gue sangat ingin masangin itu. Sangat ingin. Ingin banget.

Namun gue balik lagi nanya, berkontemplasi, merenungkan dari segala hal teknis yang mungkin akan terjadi.

Gue akan sangat gak terkejut aja jika doi nanya “Ben internetnya kok ga bisa, ya?”

“Ben, ini paketnya habis atau gimana?”

Maka dari itu, gue sepakat dengan diri sendiri, nyokap gausah dipasangin paket data. Soalnya, setiap hari, dia bakal buka yutub, dari nonton MasterChef Indonesia sampai nonton gossip gitu.

Jadi kemungkinan pemborosan kuota akan bertambah. Sebagai anak yang pelit irit, meskipun ga irit-irit banget, gue gak mendukung. Gue lebih mendukung hal lain, contohnya kumpul kebo.

Dukunglah hidup kumpul kebo!

Astagfirullah. Laknat gue.

Maksud gue kumpul kebo begini

Hasil gambar untuk kumpul kebo

***

Anyway, stay healthy, folks! Mari kita dukung gerakan #dirumahaja. Kepentingan banyak orang bertaruh dari kegiatan rebahan kita.

Adios~~

Saturday, March 31, 2018

Kisah Di Balik Pendakian Gunung

Kalo pengen tau rasanya diputusin dengan alasan tidak logis, tanya aja sama gue. Siapatau gue ngerti jawabannya.

***


Waktu itu, gue lagi jarang banget naik gunung, tapi suddenly kepikiran buat nyoba Gunung Slamet. Ya mengingat gue belum pernah dan juga *kayanya* habis diputusin atau lebih tepatnya diputuskan secara pihak sampai akhirnya itu mantan meniqa dan gue tidak diundang.

Anjir. Sedih juga nulisnya.

Ya, biasanya gue naik gunung karena pelampiasan perasaan, sih. Entah sedang jatuh atau 'jatuh' cinta. Gue rasa kebanyakan sih yang di'jatuh'in.

Pernah, tuh, gue naik gunung nulis di buku tulis (note) kecil, ngajakin cewe yang gue taksir buat ta'aruf, namun apadaya, si cewe ternyata udah punya pacar selama 7 tahun. Macem lo mau KPR itu tinggal 8 tahun lagi lunas. Ya ujungnya mereka sih meniqa sekarang, dan sudah bahagia.

Anjir. Sedih lagi.
Ini gue nulis, gak ada bahagianya, pisan.

Lalu, apalagi, ya.

Oh iya, waktu itu naik ke Guntur, itu juga lagi pacaran sama orang yang gue deketin hampir 6-8 bulanlah, pastinya lupa. Yaaaaaa, kalian bisa nebaklaaah. Gue diputusin setelah gue pacaran cuma 4 bulan.


Akhirnya dia meniqa kemarinan. Gue sih diundang, tapi gak dateng. Bukan karena gue sedih, tapi karena waktu nikahannya tidak cocok dengan acara kesendirian gue.

Puck. Anjir. 

Hmmm, pas naik Gunung Papandayan juga. Itu gue abis diputusin, padahal gue udah jadian selama 1........
.......
......
bulan. 

Iya secepat itu. 
 
Kalian gak salah baca. 

Ini gue pacaran kaya macem main petak umpet. Bentar banget. Alesannya karena gak direstuin nyokapnya. Padahal gue tau, engga berapa lama dia pacaran lagi sama mantannya.

Kesel? Iya. Sedih? Iya.
Tapi gue biasa aja *padahal ini nangis sesenggukan.

Semua kisah di atas merupakan alasan di balik pendakian gunung yang telah gue lalui. Ya padahal masih banyak, sih. Entah gue diputusin, atau gue emang yang terlalu baperan anaknya. Tapi, plis, hati gue bukan mainan. Kayaknya cuma slime yang dibuat dari lem fox dan gom. Kenyal kenyal menggiurkan.

Seluruh pendakian tersebut udah bikin gue move on, kok. Karena pendakian, menurut gue, adalah cara terbaik ngobatin sakit hati. Tidur di bawah langit dan bintang beralaskan matras di dalam tenda itu juara banget. Tempatnya adem, yaiyalah adem namanya juga gunung. -.-

Bukan, bukan itu.

Kalo kalian pernah atau enggaknya naik gunung, cobalah lo sesekali sampai di atas gunung itu sore ketika lembayung senja timbul. Lalu, lo termenung melihat kota dari kejauhan, bayangin kalo lo berasal dari bawah kota yang telihat kecil itu, dan setelahnya bayangin lo udah napakin kaki lo sejauh ini.

It is worth to wait.



Apalagi lo bayanginnya di samping tenda sambil nahan berak. Duh. Pasti lo engga bakal kepikiran lagi, yang ada di otak lo hanya ada kata "Anjir, gue berak dimana ya ini."


Haha.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Benbageura (@benbayoga) pada


Nah, kaya gini nih pemandangannya. Bagus, kan? Kan? Kan?


PS:
Buat mantan-mantanqu, bahagialah. Setidaknya gue pernah ada di posisi yang membahagiakan kalian, dahulu. Cailah. Wekwekwek.

Saturday, October 15, 2016

Main-main ke Pendakian Gunung Sindoro

"Ben, mau ikut ke Sindoro, ngga?" Ajakan abang gue.


***
Ketika mendapatkan ajakan seperti itu, langsung saja gue iyakan. Alasannya simpel, karena udah jarang main di kebon (red: gunung) dan emang lagi ngga ada rencana. Ya meskipun, ajakannya terjadi karena adanya peserta yang gagal ikut, sih.

Selain itu, kayanya setelah wisuda kuliah, gue belum mendaki gunung lagi. Kapan lagi ye kan bisa foto pake toga di atas gunung.

Buat yang bertanya-tanya, Sindoro itu ada dimana, mending googling dulu deh, sebelum melanjutkan ke kalimat selanjutnya. Huh.


Eh engga, deng. Bercanda.

Gue googling dulu, ye. Bentar.

Gunung Sindara, biasa disebut Sindoro ataupun Sundoro (ketinggian 3150 mdpl) merupakan sebuah gunung volcano aktif yang terletak di Jawa Tengah, Indonesia, dengan Temanggung sebagai kota terdekat. Gunung Sindara terletak berdampingan dengan Gunung Sumbing.

Nah, hasilnya dari Wikipedia.com, tuh. Gimana? Memuaskan?

HA HA HA HA

By the way, sekalipun gue cuma diajaki naik gunung, tapi kita mesti tetep melihat kondisi teraktual gunung itu gimana, terutama bagi gue pribadi itu ialah cuaca. Hujan, kah? Panas, kah?
Cara gue melihat kondisi itu biasanya lewat mountainforecast.com (kalo masih ada),  kadang-kadang akurat, kadang tidak. Karena semuanya ada di tangan Tuhan Yang Maha Esa. Bukan di tangan Aa Gatot atau Dimas Kanjeng.

Ke Gunung Sindoro ini kalo dari Jakarta bisa dicapai melalui Purwokerto lalu nanti biasanya ada yang menawarkan untuk mencarter minibus sampai ke Basecamp Sindoro, ataupun jika kalian hanya sendiri, bisa menaiki bis yang menuju ke Semarang dari Terminal Purwokerto, lalu berhenti di Kledung.

Ingat. Kledung. Bukan Blendung ataupun Tekdung.

Sudahlah.

Sesampai di sana, cuaca mendung dan gelap, persis seperti dugaan gue mountainforecast. Meskipun begitu, gue dan rombongan langsung mencari tempat pendaftaran dan istirahat (repacking peralatan). Iyap, sebaiknya, sebelum melakukan pendakian, kita mesti memetakan peralatan dalam rombongan, dilihat dari kekuatan tim dan lainnya. Jangan sampai memaksakan seseorang, malah nantinya membuat rombongan ngaret dan molornya jadwal pendakian.

Aslik. Sok ngerti banget ye gue. Hahaha.

Setelah beberes, kondisi malah hujan besar, dan lama, sehingga pendakian agak molor ke jam 4 sore. Deym. Bakal pendakian malam lagi ini, mah. Gue pikir.

Di saat pendakian, mau ngga mau, tetep dalam kondisi gerimis. Kita harus jalan, karena rencananya bakal melakukan pendakian ke tetangga sebelah esoknya. Ya walaupun ini cuma jadi angan-angan semata.

Sebenernya, gue pengen nulisin berapa jam untuk ngedakinya. But, karena ini pendakian lama yang baru ditulis. Jadinya gue lupa, deh. Maafkeun. Tapi dari basecamp ke Pos 3 itu, gue memakan waktu sekitar 3 jam, deh. Tanpa jeda istirahat yang banyak, ya. Sedangkan, Pos 3 ke Puncak sekitar 3 jam juga sepertinya.

Di Pos 3 ini, karena kita sudah kemaleman, kita ngga kebagian tempat buat nenda, dapet sih tapi kondisinya miring. Pas tidur, tiba-tiba kaki gue melorot ke bawah. Lalu gue merasa kedinginan. Iya, tenda yang kemarin ngga proper dibuat tidur karena kehabisan lapak. Jadilah, bangun tenda seadanya, yang penting berdiri dan menutup kita dari angin malam.


Esok paginya, kebangun karena kedinginan juga, membuat gue menjadi males meneruskan perjalanan sampai Puncak. Sekali lagi, ini bukan Puncak Mesjid At-tawun, yaa.

Ya, sebenernya karena kepalang udah bawa toga aja, sih, jadinya tetep lanjut.

Tapi sebelum melakukan pendakian ke Puncak, gue kasih beberapa foto asyik. Diambilnya cuma pake iphone 4S, kok







Akhirnya, setelah menanyakan ke beberapa rekan yang lain, dan ngga ada yang mau nerusin ke Puncak. Kami pun hanya melakukan berempat. Dimana logistik, hanya gue yang bawa. Mereka dengan asyiknya hanya bermodal tubuh sendiri. Siakek, emang. Asemik.

Dengan akal bulus yang aduhai, kalo mereka bilang haus, gue bilang nanti aja, “Puncak sudah deket.”. Kejam sih memang, lho tapi air minumnya kan gue ga minum sendirian juga. Jadinya ga begitu kejam, dong, ya? Hehe.

*ditabok*

Sampai akhirnya, ada pendaki yang kehausan, gue kasih air minumnya, lalu gue malah ditinggal sama mereka. Double asemik lagi namanya.
 

Sambil menyelam, motret dulu.

Tapi emang kondisinya yang kurang bagus, sesampai di atas, ngga ada pemandangan yang bagus, cuma ada foto studio aja. Belakangnya cuma kabut. :( Sedihlah pokoknya. Udah capek-capek berjuang, malah dikasih pemandangan yang kurang bagus. Hiks. 

Deym. Putih gini. :(

Ganteng, kan?

Saturday, October 24, 2015

Lebaran Malah Naik Gunung Sumbing

“Bro, gue cari tempat ngecamp dulu, ya!” Informasi dari Herdi yang masih semangat mendaki di jam 12.30 malam.

“Iya Bro.” Jawab gue dengan setengah sadar


“Weeeey Ben ada, nih!” Teriak Herdi dari kejauhan



“Weeeey…..” Teriakan Herdi kembali, yang masih tak terdengar oleh gue. Sementara gue lagi asyik ngobrol sama Jafar.
***

Sepenggal percakapan di atas adalah kisah kami bertiga di Pos Pestan ketika kami mendaki gunung Sumbing, sebuah  gunung yang terletak di Jawa Tengah, tepatnya di dekat wilayah Wonosobo.

Tepat setahun yang lalu,  gue beserta dua teman yang lain mencoba mendaki di hari yang penuh berkah ini. Mendaki di lebaran kedua hari raya.  Agak was-was sebenarnya.

Takut dikutuk jadi batu ataupun diusir dari rumah, karena pas lebaran malah naik gunung. Bayangkan aja, seharusnya di hari raya kemenangan nan fitri ini, malah bepergian atau pun mendaki gunung.

Proses mendaki ini ga gampang, dari minta izin ke orang tua, izin ke pacar (bagi yang punya), ataupun izin ke gebetan masing-masing.

Awalnya, kita melakukan pembelian tiket kereta, karena jika naik bis, gue khawatir bakalan mengalami macet di jalan.

Agak gak enak juga, sih, karena kita membeli tiket kereta mudik. Kasihan yang pada mau mudik, malah tiketnya kita ambil. :((

Mungkin, mudikers (red: para pemudik), akan menghantam kami bertiga jika tau mereka kehabisan tiket karena ada yang mau naik gunung. Mungkin juga, gue dan teman-teman dapat menjadi ‘sampah’ hujatan mereka.

Duh gue negatif aja pikirannya.

Tapi, mungkin juga….

Ah mungkin mulu.

Kami bertiga menaiki kereta Serayu Malam, karena Serayu Pagi gak kebagian. Jayus lo! Gue dalam hati, mending ketemu cewe di depan saat duduk, daripada ketemu Bapak-bapak yang sok-sok tidur di kereta.

 Tersangka
Sumber : Dokumen Pribadi

Tebakan gue bener, kami bertiga berdepan-depanan dengan ibu dan anaknya yang lagi mudik. Anaknya masih kecil, lucu gitu. Jadi kepengen punya anak. Gue berarti harus latihan dulu nih, gimana cara bikin anaknya. *lho*

Singkat kata, kami sampai di Stasiun Purwokerta pukul 07.00 pagi.

“Ben, kenapa dilewatin?”

“Bagian mana?”

“Bagian latihan bikin anaknya.” *ngasih link JAV*

Setelah, melakukan MCK. Kami berangkat ke Terminal Purwokerto. Dengan sepengetahuan tarif yang ala kadarnya, kami sukses sampai di Terminal dan ditipu mentah-mentah oleh calo bleng**k.

Ya bayangin aja, harga tiket ekonomi dijual dengan harga eksekutif. Kesel jadinya.

Ya secara gak ikhlas, kami menerima tawaran tersebut. Dan ketika naik, bener-bener kesel. Bis jadul, udah tua dan gak ada AC-nya. Di perjalanan pun, panas juga. Hiks, Hayati sebel.

Waktu perjalanan mencapai 3 jam dari Terminal Purwokerto ke Pos Pendakian Garung. Dengan pantat tepos dan hati yang kesel, kami berjalan lagi menuju pos pendaftaran. Sesampainya di sana, seperti biasa, yang ditugaskan mendaftar adalah Herdi, karena dia mempunyai latar belakang Mapala atau Apalah Aku Atuh.

Setelah mendaftar dan membaca peta, serta mendownload peta online di aplikasi Oruxmaps, kami bergegas melakukan persiapan. Persiapan air dengan derigen 5 liter pun sudah siap. Kemudian persiapan masing-masing, ada yang nelepon pacar ataupun selingkuhan. Karena saat itu, gue gak punya pacar, gue nelepon operator seluler.

 Orang ganteng sok sok baca peta dan peraturan
Sumber : Dokumen Pribadi


 
Mading Pendakian
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Kami melakukan perjalanan pukul 5 sore. Sebenarnya, gue gak biasa mendaki malam, tetapi karena kami semua adalah pekerja buruh, yang dikejar waktu cuti, mau gak mau pendakian malam dilakukan. Kami tau konsekuensinya, dengan kami bertiga yang tidak mempunyai pengalaman di gunung ini, mungkin kami bakal nenda di jalan.

Untunglah, Oruxmaps, aplikasi GPS dan peta yang gue dapat dari thread di Kaskus OANC, membuat kita merasa aman. Ditambah di saat pendaftaran, kami mendapatkan peta kertas dari Ranger di bawah.

Di pos pendakian pertama, Jafar dengan tas barunya, mengeluh kesakitan. Karena letak torso yang gak sinkron dengan tulang belakang, jadilah ia menjadi-jadi, ditambah dengan dia membawa tenda.
Ya mau gimana lagi, yang tadinya gue mau jalan nyantai dengan tas yang ringan, kebagian tenda di Pos Pendakian Kedua. Jafar telah sangat kesakitan. Dia lebay ya ternyata, gak nyangka.

Tur Atur
Sumber : Dokumen Pribadi

Dan di saat gue bawa tenda dan air yang lumayan banyak, serta nesting di backpack, “Anjrit berat banget” dalam hati. Akhirnya kami melakukan perjalanan kembali dengan penggantian isi tas tersebut. Biasanya, gue selalu minta duluan pas naik, tapi kali ini, sebaiknya tetep bareng-bareng, karena sudah malam dan di situasi bahwa kami bertiga belum pernah mendaki gunung ini.

Semua pendakian berjalan normal sebelum mencapai Pos Pestan. Sesampainya di sana, lapak buat nenda menipis, karena saking banyaknya pendaki yang sudah ada di sana sejak sore.
Karena gue dan Jafar sudah kelelahan, jadilah pemimpin kita, Herdi, si penakluk wanita, yang mencari lapak yang dapat kami bangun tenda di atasnya.

“Bro, gue cari tempat ngecamp dulu, ya!”Informasi dari Herdi yang masih semangat mendaki di jam 12.30 malam.

“Iya Bro.” Jawab gue dengan setengah sadar

“Weeeey Ben ada, nih!” Teriak Herdi dari kejauhan

“Weeeey…..” Teriakan Herdi kembali, yang masih tak terdengar oleh gue. Sementara gue lagi asyik ngobrol sama Jafar.

Entah apa yang gue obrolkan dengan Jafar malam itu. Kemungkinan, si Jafar nanya Herdi dimana. Sebenarnya gue juga lupa apa yang diperbincangkan di sana, karena kebanyakan nanjak bareng dan curhat apapun. 

Pantat semok gue
Sumber : Dokumen Pribadi


Tiba-tiba Herdi datang dan ngomel-ngomel, “Eh sempak, gue panggilin daritadi, malah asyik ngobrol, kedinginan ini gue”. Dalam hati, gue bilang “Sama gue juga, Kampret.”. Apalagi hati yang sudah beku ini. Hiks.

Di malam itu, kami kedinginan saat mendirikan tenda, dan Jafar sedang kelelahan dan kesakitan. Setelah kami beberes dan makan malam (red: dini hari), Jafar muntah di tenda. Dan gue, dengan tatapan “Anjrit, lo ngapa muntah di tenda, sih”.

Ya untung aja, bukan matras gue yang kena, melainkan matrasnya Herdi.

Hahahaha. *tertawa berak*
*bersambung ke post selanjutnya*

Saturday, August 29, 2015

5 Kebiasaan Pendaki Jika Berada di Puncak

Ngapain sih naik gunung? Emang asik? Ah, palingan untuk update di foto 17-an aja. Iya, kan? Mungkin juga buat pamer kalo lo pecinta alam?

Tapi buat gue, naik gunung itu punya arti. Punya kelebihan tersendiri gitu. Selain buat foto, yang nantinya fotonya bakal buat ganti-ganti profile picture di Whatsapp.

Setelah beberapa kali mendaki, kayaknya gue punya rekaman sendiri seperti apa kegiatan para pendaki pas udah di puncak. Nah, berikut menurut sepenglihatan gue :

1. Foto Selfie

Sumber : Dokumen Pribadi

Gak heran sama kegiatan yang satu ini, yang karena sudah menjadi kegiatan umum di khalayak ramai, sih. Tapi, selfie di puncak bakal memberikan feel yang berbeda dari biasanya. Ya, kayak selfie pas lagi kebelet boker, gitu.

2. Nulis Nama Pacar


Sumber : Dokumen Pribadi

Sebelum melakukan pendakian, pasti banyak banget yang udah nyiapin kertas yang udah ada tulisannya, ataupun kertas kosong dan spidol. Kegunaannya ya satu, nulis nama pacar, dan bilang “Happy Birthday, xxxx”. Tapi gue pernah ngelakuin juga, ya meskipun bukan nama pacar, sih.

*toyor diri sendiri*

3. Foto dengan Atribut Bendera Merah Putih



Sumber : Dokumen Pribadi

Entah kenapa, banyak banget pendaki yang melakukan ini, mungkin buat membuktikan kalo mereka sayang Indonesia pas di atas gunung atau juga memberikan penglihatan bahwa Indonesia itu keren. Ya, bisa jadi juga, sih.

4. Foto Wisudaan

Sumber : Dokumen Pribadi

Ah, ini kayaknyaaaaa…

Gue bangeeeet. Hahaha. Jangan dilihat modelnya, ya. Takut muntah.

Gausah diomongin lagi, deh,

5. Masak Indomie

Gak heran, banyak pendaki yang bawa kompor kalo lagi di puncak, tujuannya ya buat masak-masak Indomie, karena masak Indomie di puncak itu mungkin punya rasa yang berbeda dari masak Indomie di rumah. Jangan-jangan, nanti bakal ada warung Indomie lagi pas di puncak.

Nah, karena pengalaman pendaki yang masih nubie ini. Maka beberapa hal di atas yang bisa gue tarik kesimpulan. Coba kalian naik, mungkin punya kebiasaan yang berbeda. Cenderung unik, mungkin?

Tapi sekali lagi, jangan foto mesra bareng pasangan di depan gue, ya. Kalo misalkan nanti ketemu. Apalagi foto pasangannya yang agak gimana gitu. Agak nyesek di gue nantinya. Please ya.

Jadi, adakah kebiasaan yang lain?